0 komentar

Inilah Jalanku

Oleh : Al Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ
وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
(Artinya: Katakanlah: “Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada ALLAH dengan keterangan yang nyata. Maha Suci ALLAH dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”) (Yusuf: 108)
Inilah jalanku…
Ya, satu lagi perintah ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa yang wajib kutunaikan, mengikuti cara Sang Kekasih ALLAH di dalam berda’wah. Jalan yang juga ditempuh oleh orang-orang yang pertama-tama beriman, yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa pilih untuk hidup menyertai kekasih-Nya -Shallallahu alaihi wa sallam-., yakni jalannya para Shahabat -radhiallahu anhum-. Sedangkan siapa saja yang mengkhianati Ar-Rasul, berpaling, dan menempuh selain jalan mereka ini, akan ALLAH abaikan ke mana saja ia mau melangkah -tanpa mereka sadari-:
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ
(Artinya: “…akan kami tarik berangsur-angsur mereka (-kepada kebinasaan-) dari arah yang tak mereka ketahui.”) (Al Qalam: 44)

0 komentar

Special For Akhwat : Agar tak menjadi DEBU (untuk yang menanti)


“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa) karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” [Hadits shahih: diriwayatkan oleh Ahmad (I/378, 424, 425, 432), al-Bukhari (no. 1905, 5065, 5066), Muslim (no. 1400), at-Tirmidzi (no. 1081), an-Nasa-i (VI/56, 57), Ibnu Majah (no. 1845), ad-Darimi (II/132) dan al-Baihaqi (VII/77), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu.]
Ada yang menangis tertahan, ketika daurah bekal pernikahan itu berlangsung. "Saya jenuh sudah berkali-kali mengikuti daurah dengan tema yang sama, namun saya masih saja sendirian. Sepertinya harapan wujudnya keluarga Islami nan indah mempesona itu hanya utopia. Mimpi indah yang pahit pergi saat subuh datang. Sedih, sebab embun pagipun hamoir selalu berkabut", ujarnya pelan.

0 komentar

Jangan Kau Buat Allah Cemburu!



Segala puji bagi Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Sang pembawa lentera ilmu dan bimbingan. Demikian pula semoga dicurahkan kepada para sahabatnya yang berjihad dengan segenap harta dan diri mereka di jalan-Nya, begitu pula para pengikut mereka di sepanjang masa. Amma ba’du.


Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu’anhuma meriwayatkan, suatu saat dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/28] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)


Abu Hurairah radhiyallahu’anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang mukmin itu merasa cemburu, sedangkan Allah lebih besar rasa cemburunya -daripada dirinya-.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim li an-Nawawi [9/29] cet. Dar Ibnu al-Haitsam Tahun 2003)

0 komentar

HUKUM MENGUSAP (MENYAPU) MUKA SETELAH (SELESAI) SHOLAT DAN SETELAH BERDOA?



أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهده اللهُ فلا مُضِلَّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد:

sebenarnya ana mo menyelesaikan dulu penjelasan masalah bid'ah , namun karena ada yang tanya tentang mengusap muka setelah berdo'a maka ana ketengahkan masalah ini , semoga semakin jelas & bermanfaat bagi kita semuanya

Artikel ini adalah sebuah salinan secara ringkas dari perbahasan sekitar persoalan adakah mengusap (menyapu) muka selepas salam (dalam sholat) itu suatu yang disunnahkan, juga turut mengupas apakah menyapu/mengusap muka selepas/selesai berdoa itu memiliki contoh dari sunnah yang shahih atau tidak. Mari kita kupas .

0 komentar

KEHIDUPAN AKHIRAT SEBAGAI TUJUAN UTAMA

KEHIDUPAN AKHIRAT SEBAGAI TUJUAN UTAMA

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ..
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu di dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu  (Q.S al-Qoshosh :77)
وَلَلْآَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَى  ( الضحى : 4)
“ Dan kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu dibandingkan kehidupan dunia”(Q.S ad-Dhuha:4)

Dunia Sebagai Tempat Persinggahan Sementara
مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا  (رواه الترمذي)
“ Tidaklah keberadaanku di dunia ini bagaikan seorang (musafir) yang berkendara, kemudian singgah untuk berteduh di bawah pohon, kemudian bangkit dan meninggalkannya “(H.R at-Tirmidzi dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin)